Padi Lokal Magelang, Kekayaan Genetik Penopang Pangan
MAGELANG — Mentik Wangi, Merah Cempo, Ketan Hitam, Mendhel Merah, hingga Cianjur merupakan beberapa varietas padi lokal yang dikenal petani di Kabupaten Magelang. Keberadaan varietas tersebut menyimpan kekayaan sumber daya genetik sekaligus pengetahuan budidaya yang diwariskan antargenerasi. Namun, pelestariannya tidak terlepas dari tantangan, mulai dari kesesuaian varietas dengan kondisi lahan hingga pertimbangan produktivitas dan keuntungan usaha tani. Menjaga padi lokal karena itu bukan hanya soal mempertahankan benih, melainkan juga memastikan petani tetap memiliki alasan untuk membudidayakannya.
Tantangan tersebut menjadi bagian dari pembahasan dalam pelatihan konservasi in situ dan on-farm untuk tanaman kerabat liar (Crop Wild Relatives/CWR) dan tanaman lokal (Local Rice Species/LRS) yang didukung Program Crop Diversity Conservation for Sustainable Use in Indonesia (CDCSUI) bersama BRMP Biogen (20-24/10/2026). Kegiatan berlangsung di beberapa lokasi di Kabupaten Magelang dan melibatkan petani padi lokal dari sejumlah kecamatan. Dalam sesi pengenalan program, Anisa dari BRMP Biogen menjelaskan pentingnya konservasi keanekaragaman hayati pertanian, termasuk pelindungan benih lokal, kesetaraan gender, serta penghormatan terhadap hak masyarakat adat.
Selain aspek budidaya, pelatihan juga menyoroti pentingnya kepastian hukum bagi petani yang menyimpan dan mengembangkan benih lokal. Jamil dari Tim PMU CDCSUI BRMP Biogen membahas prinsip konservasi dan urgensi menjaga varietas lokal agar tidak hilang. Dalam diskusi, petani turut menyampaikan kekhawatiran mengenai aturan penjualan benih hasil pemuliaan lokal. Persoalan ini menunjukkan bahwa upaya konservasi perlu disertai pemahaman mengenai hak petani dan ketentuan yang berlaku, sehingga kegiatan menyimpan, membudidayakan, dan mempertukarkan benih dapat dilakukan dengan lebih aman.
Dari sisi teknis, Edy Gunady, Kepala UPTD Benih Kabupaten Magelang, membahas pendekatan konservasi in situ, ex situ, dan on-farm. Ketiganya saling melengkapi, mulai dari mempertahankan varietas di lingkungan asal, mengamankan benih melalui penyimpanan atau penangkaran, hingga melanjutkan budidaya langsung di lahan petani. Pembahasan juga menekankan pentingnya menilai karakteristik varietas dan kesesuaiannya dengan kondisi setempat sebelum dikembangkan lebih luas. Pengalaman penerapan varietas yang tidak sesuai dengan lingkungan menjadi pengingat bahwa keberhasilan konservasi membutuhkan proses pengamatan dan evaluasi yang melibatkan petani.
Bagi petani, keberlanjutan padi lokal juga berkaitan erat dengan kesejahteraan. Dalam diskusi, muncul perhatian terhadap umur padi lokal yang relatif panjang dibandingkan varietas unggul atau hibrida, serta tantangan regenerasi petani ketika usaha tani dinilai berisiko dan kurang menjanjikan. Karena itu, konservasi perlu berjalan beriringan dengan penguatan budidaya, pengelolaan benih, dan peluang pemasaran hasil panen. Dukungan pemerintah daerah, penyuluh, kelompok tani, dan pihak terkait dibutuhkan agar pelestarian varietas lokal tidak menambah beban petani, tetapi justru memberi manfaat bagi keberlanjutan usaha tani mereka.
Melalui CDCSUI bersama BRMP Biogen dan para pemangku kepentingan di Kabupaten Magelang, pelestarian padi lokal diharapkan berlanjut melalui pendataan varietas, pemeliharaan sumber benih, pengembangan kebun atau lumbung benih komunal, serta penguatan pemanfaatan hasil pertanian. Keterlibatan petani menjadi kunci agar varietas lokal tetap dibudidayakan dan pengetahuan tentangnya dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Dengan dukungan yang berkelanjutan, kekayaan genetik padi Magelang berpeluang menjadi bagian penting dari upaya menjaga keragaman pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat.